Keanggotaan Timor Leste di Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau ASEAN ditetapkan pada Oktober 2025. Kini, waktunya merencanakan langkah nyata kiprah baru ASEAN dengan Timor Leste di dalamnya.

 

Timor Leste, sesuai rencana akan menerima mandat sebagai ketua bergilir ASEAN 2029. Menjelang itu, Timor Leste siap membuka diri untuk terlibat di dalam rantai pasok ASEAN maupun berusaha menangani krisis politik Myanmar yang menjadi persoalan kronis di ASEAN.

 

Topik keanggotaan Timor Leste dan rencana kerja ASEAN menjadi tema utama seminar yang digelar oleh The Habibie Centre, Kamis (11/12/2025) di Jakarta. Hadir sebagai narasumber Joaquim Fonseca, Sekretaris Jenderal Perlawanan Nasional Mahasiswa Timor Leste (RENETIL). Ia pernah menjabat sebagai Wakil Tetap Timor Leste untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kemudian Duta Besar Timor Leste untuk Inggris.

 

”Timor Leste bergerak dari identitas pascakonflik ke pemain aktif di kawasan Asia Tenggara. Ini Timor Leste yang diinginkan oleh rakyatnya,” tutur Fonseca.

 

Perjalanan Timor Leste menjadi anggota ASEAN panjang. Mereka mendaftar pada 2011, pada 2014 persyaratan dasarnya diterima oleh ASEAN. Setelah itu dengan pendampingan Indonesia, Timor Leste bekerja keras memenuhi segala tolak ukur yang diminta oleh ASEAN.

 

Fonseca mengatakan, Timor Leste merevisi 30 peraturan. Setiap tahun, mereka juga membayar iuran ke Sekretariat ASEAN sebesar 400.000 dollar Amerika Serikat.

 

Hal pertama yang diinginkan oleh Timor Leste ialah kebangkitan ekonomi dan pembangunan melalui akses rantai pasok dan pasar ASEAN. Harapannya, Timor Leste bisa menjadi salah satu lokasi manufaktur ataupun perakitan  produk setengah jadi di kawasan.

 

”Kami memberikan beragam insentif. Di Zona C seperti Oecusse dan Atauro, bisa ada surga pajak selama 10 tahun,” tutur Fonseca.

 

Meskipun begitu, Fonseca menekankan, Timor Leste tidak mau sekadar menjadi lokasi produksi, tetapi prosesnya dilakukan oleh tenaga asing yang murah. Harus ada kerja sama dalam peningkatan kemampuan sumber daya manusia lokal karena cara itu akan meningkatkan produktivitas ASEAN juga.

 

"Bagi ASEAN, masuknya Timor Leste sebagai anggota juga menjadi jembatan penghubung ke negara-negara Pasifik maupun yang berbahasa Portugis," kata peneliti The Habibie Centre Marina Ika Sari.

 

Menambah mutu

 

Anders Uhlin, pengamat isu ASEAN dari Universitas Lund, Swedia mengatakan, masuknya Timor Leste ke ASEAN semestinya bisa menaikkan kualitas kinerja organisasi lawasan tersebut. Timor Leste memang tertinggal secara ekonomi apabila dibandingkan dengan Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, dan Vietnam.

 

Namun, sejatinya indeks pembangunan Timor Leste lebih tinggi dibandingkan dengan Laos, Kamboja, dan Myanmar. Padahal, ketiga negara itu sudah puluhan tahun menjadi anggota ASEAN.

 

Dari aspek Indeks Kebebasan Demokrasi, Timor Leste justru yang paling tinggi di ASEAN. Di seluruh dunia, Timor Leste menempati rangking ke-54 untuk penerapan demokrasi, mulai dari pusat hingga daerah.

 

Indonesia menempati posisi ke-94 dan Filipina ke-99 karena pemerintahannya bergeser ke arah otokrasi. Demokrasinya masih dikendalikan oleh elite politik. Malaysia di posisi ke-88 dan Singapura ke-90. Sisa negara-negara ASEAN sama sekali bukan demokrasi.

 

”Penting membawa gaung demokrasi yang lebih besar kepada ASEAN karena membuka ruang untuk bekerja sama dengan berbagai lembaga penegakan hak asasi manusia di kawasan,” papar Uhlin.

 

Semakin besar suara demokrasi di ASEAN, lanjut Uhlin, semakin mampu ASEAN menstabilkan kondisi geopolitik. ASEAN bisa menavigasi persaingan adidaya Timur dan Barat di kawasan.

 

Dinna Prapto Raharja, dosen Hubungan Internasional dari Universitas Binus menjelaskan, demokrasi di ASEAN bisa membawa semangat pembangunan lebih adil. Sekarang ini, anggaran negara-negara ASEAN lebih banyak dipakai untuk membeli alutsista, bukan untuk penguatan pendidikan dan ekonomi pembangunan.

 

Ini adalah tren global, sesuai dengan data Institut Kajian Perdamaian Stockholm (SIPRI). Per 2024, belanja pertahanan global naik 9,4 persen dari tahun 2023. Apabila diuangkan, nilainya setara 2,7 triliun dollar AS.

 

Uang belanja pertahanan ini diambil dari dana pendidikan, kesejahteraan sosial, dan lingkungan. Kekurangan pendanaan ditutup dengan utang. Walhasil, pembangunan suatu negara terhambat.

 

Tidak hanya itu, Dinna juga menyoroti risiko perlombaan senjata negara-negara adidaya yang mengambil tempat di Asia Tenggara. ”Bagaimana kini ASEAN merumuskan pendekatan diplomatis dan demokratis untuk memitigasi risiko tersebut?” kata Dinna.

 

Myanmar

 

Isu Myanmar juga dibahas di salam diskusi tersebut. Besar harapan keterlibatan Timor Leste untuk turut serta mengurai permasalahan krisis politik di Myanmar. Myanmar adalah salah satu negara yang keberatan Timor Leste masuk ASEAN.

 

Sejak 2011, junta militer Myanmar tidak suka Timor Leste vokal menyoroti berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia. Kini, Timor Leste sebagai bangsa yang bangkit dari konflik diharapkan bisa berbagi pengalaman rekonsiliasi dan pandangan segar dalam membahas persoalan Myanmar.

 

”Tentu saja kita harus memulai dengan pertanyaan Myanmar seperti apa yang diinginkan oleh ASEAN ataupun para elite yang ada di dalam negara itu,” tutur Fonseca.

 

Dulu, ketika Timor Leste merdeka pada 2002, mereka juga menanyakan kepada diri sendiri wujud bangsa yang diinginkan oleh semua rakyatnya. Setelah disepakati, dengan semangat itu mereka bisa bergerak bersama.

 

Dinna mengusulkan agar Indonesia dan Timor Leste bersama-sama membawa isu Myanmar ini sebagai isu kawasan Asia Tenggara, bukan hanya isu dalam negeri Myanmar. Kenyataannya, ketiadaan pemerintah resmi di seluruh daerah Myanmar membahayakan ASEAN secara umum.

 

”Ada daerah-daerah tak bertuan yang menjadi pusat-pusat kejahatan, misalnya penipuan daring. Korbannya, ya, warga ASEAN itu sendiri. Ini masalah keamanan kawasan Asia Tenggara,” ujarnya.

 

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

12 Des 2025 07:00 WIB · Internasional

Share