Fenomena stagnasi mengkhawatirkan karena pelaksanaan hukum yang diskriminatif, mengguritanya oligarki, serta tergadainya etika dan integritas dalam berpolitik.'
Seorang sastrawan visioner, George
Orwell, mengingatkan tentang fenomena paradoks dalam dunia politik, yakni
bagaimana kalangan yang mengatasnamakan kaum tertindas dapat meraih kekuasaan
dengan dukungan rakyat. Namun, setelah berkuasa, gerakan pembebasan yang
mengatasnamakan ketertindasan rakyat itu malah tidak mengubah apa-apa.
Celakanya, yang terjadi justru repetisi
cerita usang tentang ketertindasan atau keterabaian aspirasi rakyat. Kalau toh ada,
yang berganti hanyalah aktor-aktor penguasa dengan peran yang kurang lebih
sama. Bahkan, dalam bukunya, Orwell menggambarkan sang pemimpin baru memiliki
karakter yang megalomania dengan segudang gelar yang setiap orang harus
melafalkannya.
Dalam buku Animal Farm: A Fairy Story
(1945), Orwell menggambarkan sepak terjang hewan-hewan progresif, sebagai
pembela hewan-hewan lemah, di sebuah peternakan. Namun, setelah hewan-hewan
progresif itu akhirnya berjaya menggulingkan penguasa lama, mereka menjelma menjadi
penguasa baru yang menjadikan hewan-hewan lemah tetap
Semangat pembebasan yang
didengung-dengungkan justru melahirkan penjara baru sehingga sejatinya tidak
ada yang berubah, hanya sebuah stagnasi politik yang memilukan. Novel satire
dari novelis Inggris itu sebenarnya merupakan penggambaran perilaku paradoks
para pelaku Revolusi Bolshevik di Uni Soviet.
Alih-alih melahirkan persamaan kelas,
revolusi itu justru menghasilkan elite baru yang sama durjananya dengan
penguasa sebelumnya. Tembok tebal feodalisme digantikan tirai besi kediktatoran
proletariat yang melahirkan sebuah negara superbirokratik yang antikritik dan
melanggengkan represi politik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/03/09/64db75fdf9bf6c63085450fe4d912c15-20260309BAH21.jpg)
Aktivis membawa
poster-poster tuntutan pada peringatan Hari Perempuan Internasional di Gedung
Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, 9 Maret 2025. Kompas/Bahana Patria Gupta
Fenomena itu dalam konteks kontemporer
dianalisis oleh Aurel Piturca (2012) yang juga memperlihatkan bahwa rezim
komunis yang katanya memperjuangkan persamaan kelas sekalipun dapat
menghasilkan minoritas elite kelas penguasa yang menghapus makna persamaan
kelas itu sendiri. Gerakan politik akhir abad ke-20 di Uni Soviet yang
menumbangkan rezim lama pun terjebak dalam situasi yang sama.
Glasnost (keterbukaan) dan perestroika
(restrukturisasi) yang didengungkan Mikhail Gorbachev justru menghasilkan rezim
yang disebut Nomenklatura di Rusia saat ini. Rezim baru model ini berisikan
aktor penguasa politik dan pengusaha besar dengan peran dan kedudukan amat
spesial, yang hampir sama dengan para aktor penguasa di masa kediktatoran Uni
Soviet.
Tendensi stagnasi juga terjadi lintas
ideologi di berbagai belahan bumi setelah tumbangnya rezim otoriter. Keruntuhan
junta militer di Amerika Latin pada 1980-an, misalnya, tidak serta-merta
menjamin langsung terkonsolidasinya demokrasi. Sejumlah negara bahkan kembali
menjadi negara bertendensi otoriter.
:quality(80)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/10/18/8bea60f23a60d34e4e722e1203370d28-20251018_GKT_Indeks_Demokrasi_Indonesia_mumed.png)
Indeks Demokrasi
Indonesia menurut The Economist Intelligence Unit (EIU). Gunawan
Realitas Indonesia
Di Indonesia, fenomena stagnasi itu
bukan tidak terasakan. Kenyataannya, kata ”reformasi”, yang menandai era
politik baru pasca-Soeharto, kini kehilangan makna dan relevansinya dalam
kehidupan politik kita.
Begitu juga hal-hal yang dianggap solusi
mendasar, yang mewujud kemudian sebagai bagian ”tuntutan reformasi”, seperti
hapuskan Dwifungsi ABRI, laksanakan otonomi daerah seluas-luasnya, tegakkan
supremasi hukum, serta hadirkan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi,
nepotisme (KKN), makin terabaikan seiring komitmen kolektif aktor-aktor politik
yang makin memudar akan hal-hal itu.
Bahkan, sudah ada wacana tandingan dan
upaya-upaya untuk mempraktikkannya. Upaya membatasi pelaksanaan otonomi daerah
dan menghadirkan resentralisasi pemerintahan, misalnya, mulai terasakan.
Sebaliknya, pelaksanaan Dwifungsi ABRI (TNI/Polri) gaya baru makin terendus.
Stagnasi menjadi makin mengkhawatirkan
karena juga ditandai oleh pelaksanaan hukum yang diskriminatif, mengguritanya
oligarki, tergadainya etika dan integritas dalam berpolitik, hingga berbagai
teror terhadap aktivis demokrasi. Kesemuanya mengingatkan kita akan memori
politik buram era pra-Reformasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2026/04/06/3006ebe8cca760d9e764167e53876bae-22646.jpg)
Perwakilan mahasiswa
Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara berorasi saat bersama sejumlah mahasiswa
lintas perguruan tinggi yang tergabung dalam Gerakan Kolektif Merapat Kita ke
Kiri (Merpati) menggelar aksi solidaritas untuk aktivis Andrie Yunus di depan kantor
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jakarta, Senin (6/4/2026). KOMPAS/RONY
ARIYANTO NUGROHO
Potensi stagnasi atau regresi itu telah
diperingatkan Samuel Huntington yang menunjukkan bahwa demokrasi bisa turun,
naik, muncul, dan menghilang layaknya gelombang (1991). Ini karena konsolidasi
demokrasi bukan hal yang mudah mengingat selalu ada ancaman dari kalangan
antidemokrasi. Begitu juga adanya konflik internal para pendukung demokrasi dan
pelemahan institusi-institusi demokrasi yang kesemuanya dapat menghadirkan
kembali otoritarianisme.
Stagnasi menjadi makin mengkhawatirkan
karena juga ditandai oleh pelaksanaan hukum yang diskriminatif, mengguritanya
oligarki, tergadainya etika dan integritas dalam berpolitik, hingga berbagai
teror terhadap aktivis demokrasi.
Kajian para akademisi pada awal 2000-an
menghadirkan perspektif akan adanya fenomena hybrid regime. Fenomena ini diurai
para akademisi, semisal Carothers (2002), Diamond (2002), dan Crouch (2000,
2004), yang mengendus bau kurang sedap dari banyak negara setelah terbebas dari
rezim otoritarian.
Alih-alih memiliki demokrasi yang solid,
negara-negara tersebut malah mengalami kehidupan politik campuran demokrasi dan
otoritarian sekaligus, yang pada akhirnya kerap berujung pada stagnasi politik
atau bahkan pembalikan situasi politik demokratik ke arah nondemokratik.
Kembali pada konteks Indonesia, episode
stagnasi politik hari ini sejatinya akan makin fatal jika kita semua hanya
berdiam diri atas apa yang terjadi. Maka, beruntunglah negeri ini jika masih
ada mereka yang peduli untuk terus secara kritis mengingatkan bahwa stagnasi
dan potensi adanya pembalikan arah demokrasi bukanlah sebuah ilusi.
***
Oleh Firman Noor, Profesor Riset dari Pusat Riset Politik, BRIN
Artikel telah tayang di Kompas.id pada tanggal 9 April 2026