Ketika Presidential Communication
Office (PCO) dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2024,
banyak pihak berharap lembaga ini menjadi simpul komunikasi strategis
pemerintah.
Fungsi
utamanya jelas: menyampaikan kebijakan presiden kepada publik, mengoordinasikan
narasi lintas kementerian, dan memastikan diseminasi informasi berjalan
terpadu.
Namun,
sejak berdiri, lembaga ini justru lebih sering menjadi sasaran kritik.
Alih-alih tampil sebagai clearing house komunikasi negara, PCO
terjebak dalam birokrasi tumpang tindih, minim respons cepat, dan gagal
membangun sensitivitas pada keresahan publik.
Birokrasi
yang membingungkan
Sejak
awal, gagasan PCO adalah menjembatani komunikasi antara presiden,
kementerian/lembaga, dan publik. Namun, praktiknya menunjukkan hal sebaliknya.
Banyak kementerian tetap menjalankan fungsi humasnya sendiri tanpa koordinasi
efektif dengan PCO. Akibatnya, narasi pemerintah sering tumpang tindih.
Isu
strategis seperti harga BBM, subsidi listrik, target EBT, dan pemindahan Ibu
Kota Nusantara (IKN) sering dijelaskan pejabat dengan framing berbeda:
ada yang menekankan keadilan subsidi, tuntutan global, target net zero
sementara kapasitas batubara ditingkatkan, sedangkan yang lain fokus pada
infrastruktur untuk pembangunan IKN. Akibatnya, publik bingung karena PCO tidak
hadir sebagai pusat klarifikasi.
Dalam
perspektif teori agenda setting (McCombs & Shaw, 2020), lembaga
komunikasi pemerintah seharusnya berfungsi menentukan prioritas isu krusial
yang harus menempati ruang publik. Namun, tanpa koordinasi, agenda pemerintah
tidak akan pernah jelas sehingga ruang itu segera diisi aktor lain, seperti
media, oposisi, atau influencer partisan, atau sampai tingkat
tertentu, buzzer.
Respons
lambat di era ”real-time”
Komunikasi
politik sejatinya menuntut kecepatan. Di jagat media sosial, jeda satu jam saja
bisa membuat narasi liar mendominasi percakapan publik. Namun, PCO masih
terjebak logika birokrasi lama: setiap rilis harus melewati jalur berlapis dari
staf, eselon, hingga pimpinan. Alhasil, too little, too late,
klarifikasi yang keluar sering kali datang terlambat— saat isu sudah telanjur
viral.
PCO, ibarat mobil sport, tapi transmisinya usang: delayed
shifting, sluggish response. Ini sejalan dengan penjelasan Robert Entman,
Bryan Gervais, dan R Lance Holbert berkaitan dengan media effects theory,
keterlambatan ini karena pengaruh media yang tidak mampu diimbangi sebagai
tuntutan komunikasi pejabat dalam politik kontemporer.
Narasi yang beredar di media sosial membentuk persepsi
publik jauh lebih cepat daripada klarifikasi resmi pemerintah. Ketika framing
negatif sudah mengendap di benak masyarakat, klarifikasi belakangan sering
hanya dianggap sebagai justifikasi alias pembenaran, bukan penjelasan obyektif.
Kritik publik terhadap komunikasi pemerintah tidak berhenti
pada soal kecepatan. Lebih parah lagi, banyak pernyataan pejabat yang terkesan
dingin, teknokratis, bahkan tidak empatik. Misalnya ucapan tentang beban pajak,
gaji, dan rangkap jabatan komisaris yang dinilai meremehkan penderitaan rakyat.
Tanpa koordinasi komunikasi yang baik, pernyataan seperti ini cepat viral dan
memantik kemarahan publik.
Dalam kerangka teori klasik framing (Entman, 1993),
bahasa yang digunakan pejabat negara sangat menentukan persepsi masyarakat.
Kata-kata yang kaku dan elitis menciptakan frame bahwa pemerintah
tidak peduli kepada rakyat kecil.
Padahal, kerangka komunikasi empatik bisa menghadirkan frame
alternatif: kebijakan memang berat, tetapi diambil demi kepentingan rakyat.
Sayangnya, PCO gagal membangun frame semacam ini.
Problem
struktural tetap
Pergantian kepala PCO diharapkan menjadi momentum pembenahan
internal, dengan akar masalah yang membelit, tumpang tindih dengan humas kementerian,
kewenangan ompong, dan komunikasi satu arah. Selama komunikasi publik
pemerintah hanya jadi perpanjangan personal branding Presiden—seperti
di era Jokowi—PCO boleh tampak gagah, tapi sejatinya hanyalah bayang-bayang
birokrasi tanpa daya.
Padahal, komunikasi pemerintah
tidak boleh hanya melekat pada figur. Lebih pada perlunya institusi profesional
yang mampu mengoordinasikan pesan negara secara konsisten, merespons cepat isu
krisis, dan menanamkan empati di setiap pernyataan publik.
Dalam literatur komunikasi politik dikenal tiga model
kelembagaan komunikasi pemerintah. Pertama, presidential-centric,
komunikasi melekat pada Presiden. Kelebihannya: informasi A-0, cepat, narasi
tunggal, memperkuat personal branding. Risikonya akan muncul kultus
individu dan krisis legitimasi ketika Presiden slip of the tongue
(Kumar, 2007).
Kedua, public-centric, yaitu model yang menekankan
responsivitas pada opini publik. Keuntungannya adalah komunikasi dua arah dan
legitimasi jangka panjang, tetapi risikonya adalah kehilangan akses langsung ke
Presiden.
Ketiga, institutional-centric, atau hibrida. Model
ini menempatkan lembaga komunikasi dekat dengan Presiden, tetapi fungsinya
tetap berorientasi ke publik dan media.
Contoh efektif terlihat pada Government Communication
Service (GCS) di Inggris. GCS berada di bawah Cabinet Office sebagai unit
profesional, bertugas menjadi clearing house komunikasi lintas
kementerian, memastikan pesan pemerintah konsisten, berbasis data, jelas, dan
mudah dipahami publik (Sanders & Canel, 2013).
Langkah strategis
Di luar perdebatan model, ada tiga hal mendesak. Pertama,
PCO perlu otoritas penuh sebagai clearing house komunikasi
negara—seluruh kementerian berada dalam satu koridor narasi, dengan PCO sebagai
dirigen orkestra di dekat Presiden. Kedua, dibutuhkan tim respons cepat yang
bisa menjawab isu dalam hitungan jam, bukan hari, apalagi berhari-hari. Ketiga,
komunikasi publik mesti bertransformasi: bukan sekadar bahasa teknokratis, tapi
narasi yang humanis, menyentuh emosi rakyat, dan membangun empati.
Komunikasi publik bukan sekadar menyampaikan informasi,
melainkan juga mengelola persepsi, emosi, dan kepercayaan. Selama problem
struktural tidak dibenahi, reshuffle kepala PCO hanya akan menjadi
kosmetik birokrasi. Akhirnya, jarak antara negara dan rakyat melebar bukan
semata akibat kebijakan yang keliru, melainkan karena cara penyampaian yang
gaduh, gagal menyentuh nalar dan simpati publik.
Julian Aldrin Pasha, Juru Bicara
Kepresidenan (2009-2014)